Ada juga cara yang sangat membantu untuk tetap menjalani RAW DIET. Berikut ini saya kutip dari salah satu RAW Guru terkemuka Victoria Boutenko. Anda harus mengakui dan menjalani 12 cara dibawah ini:
1. Saya mengakui bahwa saya telah lepas kendali terhadap ketergantunggan pada makanan yang dimasak dan pola makan saya menjadi tidak terkendali.
2. Saya percaya bahwa mengkonsumsi makanan dari tumbuhan yang mentah adalah diet paling alami untuk manusia.
3. Saya harus mendapatkan ketrampilan yang penting untuk mendukung diet raw saya seperti mempelajari resep-resep makanan mentah dan mendapatkan perlengkapan untuk menyiapkan makanan mentah/uncooked food.
4. Saya harus hidup harmonis dengan orang-orang yang mengkonsumsi makanan yang dimasak.
5. Saya harus menjauhi godaan-godaan.
6. Saya harus menciptakan kelompok pendukung.
7. Saya harus menemukan aktifitas atau hobi alternatif.
8. Saya harus membiarkan hal yang lebih besar dari diri saya (Allah) memimpin hidup saya.
9. Saya harus tetap mencari dan tidak takut untuk menemukan alasan sebenarnya, mengapa saya mencari kenyamanan dan kesenangan dari makanan yang dimasak.
10. Saya harus membiarkan intuisi menolong diri saya.
11. Melalui kejelasan saya akan mendapakan kebahagiaan.
12. Saya harus menyiapkan dukungan untuk orang lain yang juga menjalani RAW DIET.
Tampilkan postingan dengan label Raw Food and Detox. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Raw Food and Detox. Tampilkan semua postingan
Kamis, 11 Maret 2010
Apa Nggak Kangen Makanan yang diMasak?
Ini sangat gampang untuk saya jawab! YA, Saya masih kangen! Saya tidak ingin membohongi diri sendiri jika saya mengatakan saya tidak lagi kangen lezatnya sate kambing, ikan rica-rica manado, pisang goreng kipas dengan dabu-dabu.Anak-anak juga saya ajarkan untuk mengakui perasaan yang sebenarnya tentang kesukaan terhadap makanan yang dimasak, dengan begitu kami bisa berdamai dengan diri sendiri dan mencari jalan untuk mengatasi "penyakit kecanduan makanan yang dimasak/Cook Food". Seminggu sekali saya masih memanggang Apple Cake, Carrot Cake, Chocolate Cake, Pita Bread atau Pizza kesukaan keluarga yang katanya anak2 dan suami lebih lezat dari pizza di Pizza Hut :-).
Bagaimana rasanya makan makanan yang dimasak sesudah menjalani RAW DIET? Badan ini jadi komplain, rasanya perut mulas, jika makanannya mengandung gula/pemanis buatan rasanya pening, malas. Kenapa bisa begitu? karena badan yang sudah bersih dan sehat ini sudah sangat pintar dan sensitif jadi dia ingin selalu sehat. Begitu dimasuki makanan yang dimasak dia jadi marah-marah, kok setelah dibersihkan dimasukin barang jelek dan berbahaya lagi? saya nggak mau! saya protes (protesnya lewat tanda-tanda seperti mulas, pening, dll). Rasa kangen masakan favorit jadi hilang jika setelah makan, badan jadi ngk fit lagi. Jadi tinggal pilihan pribadi saja, ingin mensuport badan agar sehat atau sehat sambil sedikit-sedikit sakit (agar bisa menuruti kehendak hati untuk menikmati makanan yang dimasak) :-)
Bagaimana rasanya makan makanan yang dimasak sesudah menjalani RAW DIET? Badan ini jadi komplain, rasanya perut mulas, jika makanannya mengandung gula/pemanis buatan rasanya pening, malas. Kenapa bisa begitu? karena badan yang sudah bersih dan sehat ini sudah sangat pintar dan sensitif jadi dia ingin selalu sehat. Begitu dimasuki makanan yang dimasak dia jadi marah-marah, kok setelah dibersihkan dimasukin barang jelek dan berbahaya lagi? saya nggak mau! saya protes (protesnya lewat tanda-tanda seperti mulas, pening, dll). Rasa kangen masakan favorit jadi hilang jika setelah makan, badan jadi ngk fit lagi. Jadi tinggal pilihan pribadi saja, ingin mensuport badan agar sehat atau sehat sambil sedikit-sedikit sakit (agar bisa menuruti kehendak hati untuk menikmati makanan yang dimasak) :-)
Kenapa Memilih RAW Food DIET
Tadinya kami sekeluarga seperti kebanyakan keluarga lainnya, memakan makanan yang dimasak, tetapi kami memilih makanan yang rendah lemak, rendah gula tidak mengandung pengawet dan berserat tinggi seperti makanan dari India, Timur Tengah, Yunani dan Afrika. Suami yang kebetulah sangat peduli dengan kesehatan (Beliau dokter alternatif medicine) ingin kami lebih sehat, berenergi agar kualitas hidup bisa maksimal. Raw Food artinya makanan mentah/tidak dimasak, baik itu sayuran, buahan atau biji dan kacang-kacangan. Waktu suami bilang diet ini adalah cara terbaik untuk mendapatkan kesehatan yang maksimal, saya langsung mengiyakan, saya pikirnya, wah asik juga (bisa tambah cantik dan awet muda nih :-) tidak terpikir apa dampak diet ini baik fisik, mental dan spiritual.
Kami menjalaninya dengan step by step. Tadinya kami sudah minum jus buah campuran (dipilih beberapa buah yang paling tinggi nutrisinya) jus buahnya tidak kami campur dengan pemanis buatan, 100% buah segar. Tadinya jus hanya sebagai makanan tambahan, kemudian kami ganti sebagai salah satu menu utama (makan malam). Kami tidak lagi makan nasi, hanya omelet/pancake telur/telur dadar (meski selalu divariasi bumbunya) dan salad. Hasilnya kita lapar melulu, karena ternyata tubuh ini sudah terbiasa makan makanan yang dimasak dan nutrisinya sebagian besar hilang karena proses pemasakan dan pemanasan. Makanya lapar karena nutrisi yang dibutuhkan tubuh tidak terpenuhi, dan cara tubuh protes minta nutrisi dengan cara perut ini jadi lapar (agar diisi dengan makanan yang nutrisinya dibutuhkan tubuh). Akhirnya kita kembali ke makan makanan yang dimasak dengan menambahkan 1 sendok nasi setiap waktu makan.
Kita tidak berputus asa, sambil mencari formula kenapa tubuh kita bereaksi seperti itu, padahal kita makan makanan yang harusnya paling sehat. ternyata karena tubuh kita sudah beradaptasi/terbiasa dengan makanan yang dimasak. Akhirnya kita ganti strategi dengan pelan-pelan mengganti makanan yang dimasak dengan makanan mentah. Kita memasaknya dengan slow cooker dengan pertimbangan agar makanan tidak hilang 100% nutrisinya (dimasak dengan temperatur sangat rendah), pola makannya menjadi 1 sendok nasi + 1/2 piring sayur mentah + 1 sendok sayur slow cook food, itu untuk makan pagi dan siang, untuk makan malam kita minum jus buah atau terkadang dibuat salad buah (favorit saya). Sebulan kemudian kita mengurangi nasi menjadi hanya 1/2 sendok nasi, seminggu kemudian nasi hilang dari peredaran di menu kita. Seminggu kemudian masakan dengan slow cooker hilang sama sekali berbarengan dengan hilangnya cake buah yang tiap 2 hari sekali saya panggang. Gantinya 2 kali sehari kita makan sayuran mentah dengan bumbu mentah untuk pengganti makan siang dan malam dan sebagai pengganti cake untuk snack kita bikin raw chocolate ball, dll (snack/kue serba mentah tanpa terigu, gula dan pengawet atau bahan kimia lainnya, ngomong-ngomong kue mentah nagihin juga!). Badan Kami (kecuali suami) langsung bereaksi dasyat, segera setelah kami makan mentahan 90% saya buang gas (kentut) setiap 5 menit (anak2 protes semua, terutama ketika kita harus berhomeschool setiap harinya, mereka harus dengan sopan mereka merasa ngk nyaman dengan bau-bauan aneh dari mommy-nya). belum tulang-tulang rasanya terputus, lemas, anak-anak perutnya mulas, badanya nyeri, pening, ayah saya gatal-gatal, ibu saya diare, pembantu saya perutnya kembung, dll. Ternyata kami semua sedang mengalami proses detoksifikasi (tubuh bereaksi seperti itu karena sedang mengeluarkan racun dan sedang mengalami pembersihan termasuk membunuh bakteri merugikan). Lama dan tingkat ketidaknyamanan bergantung pada diet/pola makan dan pola hidup sebelumnya. Benar saja, anak-anak kami yang paling cepat pulih dan beradaptasi, kemudian saya dan yang lainnya. Dua minggu sejak menjalani 90% RAW DIET, saya merasa ada perubahan drastis didiri saya dan anggota keluarga lainnya. Saya yang tadinya jika sudah jam 6 sore rasanya sudah capek sekali, sekarang jam 9 malam masih punya energi lebih yang artinya saya punya waktu lebih untuk kegiatan lain yang tidak sempat saya lakikan jika anak-anak masih terjaga (IBU mana yang tidak ingin punya waktu dan energi lebih untuk melakukan kegiatan pribadinya?) Jam 3.30 pagi saya sudah terjaga dan badan segar kembali. Senang rasanya bisa punya waktu ibadah yang lebih dipagi hari. Selain intu mood saya juga berubah drastis. Saya yang kadang suka kurang sabar jika anak-anak mulai tidak terkontrol sementara pekerjaan rumah dan homeschool mengantri, sekarang menjadi lebih sabar dan damai juga sangat senang menjalani hari dari waktu ke waktu. Aneh juga dari mana datangnya rasa senang itu? Anak-anak juga jadi lebih ceria. Si Sulung belakangan ini protes, Mommy I'm not tired yet, what can I do? (jam menunjukkan pukul 8 malam dan mereka semua bangun jam 4.30 pagi tanpa pernah tidur siang), terpaksa saya beri dia buku untuk dibaca. Ibu saya hilang berbagai penyakit menahunnya termasuk badannya jadi lebih langsing (nggak usah susah-susah beli obat pelangsing atau pergi ke salon perawatan yang mahal!), pembantu saya jarang sekali mengeluh capek, sakit, kurang darah, dll. Saya cuma bisa bersyukur pada Allah, ternyata apa yang disediakan Allah dialam dalam bentuk terbaiknya memberi manusia manfaat terbaik (tanaman dan hasilnya yang tidak diproses).
Ini hanya awal perjalanan RAW Food keluarga kami. Saya ini kami sekeluarga bisa lebih sehat dan bahagia. Ada banyak pemikiran dan ide-ide positif yang muncul dan kami dapati sejalan dengan berubahnya pola hidup kami. Hal lainnya yang kami dapatkan adalah dampak positif yang ditimbulkan RAW Food Diet untuk masa depan anak cucu dan terselamatkannya bumi ini.
Kami menjalaninya dengan step by step. Tadinya kami sudah minum jus buah campuran (dipilih beberapa buah yang paling tinggi nutrisinya) jus buahnya tidak kami campur dengan pemanis buatan, 100% buah segar. Tadinya jus hanya sebagai makanan tambahan, kemudian kami ganti sebagai salah satu menu utama (makan malam). Kami tidak lagi makan nasi, hanya omelet/pancake telur/telur dadar (meski selalu divariasi bumbunya) dan salad. Hasilnya kita lapar melulu, karena ternyata tubuh ini sudah terbiasa makan makanan yang dimasak dan nutrisinya sebagian besar hilang karena proses pemasakan dan pemanasan. Makanya lapar karena nutrisi yang dibutuhkan tubuh tidak terpenuhi, dan cara tubuh protes minta nutrisi dengan cara perut ini jadi lapar (agar diisi dengan makanan yang nutrisinya dibutuhkan tubuh). Akhirnya kita kembali ke makan makanan yang dimasak dengan menambahkan 1 sendok nasi setiap waktu makan.
Kita tidak berputus asa, sambil mencari formula kenapa tubuh kita bereaksi seperti itu, padahal kita makan makanan yang harusnya paling sehat. ternyata karena tubuh kita sudah beradaptasi/terbiasa dengan makanan yang dimasak. Akhirnya kita ganti strategi dengan pelan-pelan mengganti makanan yang dimasak dengan makanan mentah. Kita memasaknya dengan slow cooker dengan pertimbangan agar makanan tidak hilang 100% nutrisinya (dimasak dengan temperatur sangat rendah), pola makannya menjadi 1 sendok nasi + 1/2 piring sayur mentah + 1 sendok sayur slow cook food, itu untuk makan pagi dan siang, untuk makan malam kita minum jus buah atau terkadang dibuat salad buah (favorit saya). Sebulan kemudian kita mengurangi nasi menjadi hanya 1/2 sendok nasi, seminggu kemudian nasi hilang dari peredaran di menu kita. Seminggu kemudian masakan dengan slow cooker hilang sama sekali berbarengan dengan hilangnya cake buah yang tiap 2 hari sekali saya panggang. Gantinya 2 kali sehari kita makan sayuran mentah dengan bumbu mentah untuk pengganti makan siang dan malam dan sebagai pengganti cake untuk snack kita bikin raw chocolate ball, dll (snack/kue serba mentah tanpa terigu, gula dan pengawet atau bahan kimia lainnya, ngomong-ngomong kue mentah nagihin juga!). Badan Kami (kecuali suami) langsung bereaksi dasyat, segera setelah kami makan mentahan 90% saya buang gas (kentut) setiap 5 menit (anak2 protes semua, terutama ketika kita harus berhomeschool setiap harinya, mereka harus dengan sopan mereka merasa ngk nyaman dengan bau-bauan aneh dari mommy-nya). belum tulang-tulang rasanya terputus, lemas, anak-anak perutnya mulas, badanya nyeri, pening, ayah saya gatal-gatal, ibu saya diare, pembantu saya perutnya kembung, dll. Ternyata kami semua sedang mengalami proses detoksifikasi (tubuh bereaksi seperti itu karena sedang mengeluarkan racun dan sedang mengalami pembersihan termasuk membunuh bakteri merugikan). Lama dan tingkat ketidaknyamanan bergantung pada diet/pola makan dan pola hidup sebelumnya. Benar saja, anak-anak kami yang paling cepat pulih dan beradaptasi, kemudian saya dan yang lainnya. Dua minggu sejak menjalani 90% RAW DIET, saya merasa ada perubahan drastis didiri saya dan anggota keluarga lainnya. Saya yang tadinya jika sudah jam 6 sore rasanya sudah capek sekali, sekarang jam 9 malam masih punya energi lebih yang artinya saya punya waktu lebih untuk kegiatan lain yang tidak sempat saya lakikan jika anak-anak masih terjaga (IBU mana yang tidak ingin punya waktu dan energi lebih untuk melakukan kegiatan pribadinya?) Jam 3.30 pagi saya sudah terjaga dan badan segar kembali. Senang rasanya bisa punya waktu ibadah yang lebih dipagi hari. Selain intu mood saya juga berubah drastis. Saya yang kadang suka kurang sabar jika anak-anak mulai tidak terkontrol sementara pekerjaan rumah dan homeschool mengantri, sekarang menjadi lebih sabar dan damai juga sangat senang menjalani hari dari waktu ke waktu. Aneh juga dari mana datangnya rasa senang itu? Anak-anak juga jadi lebih ceria. Si Sulung belakangan ini protes, Mommy I'm not tired yet, what can I do? (jam menunjukkan pukul 8 malam dan mereka semua bangun jam 4.30 pagi tanpa pernah tidur siang), terpaksa saya beri dia buku untuk dibaca. Ibu saya hilang berbagai penyakit menahunnya termasuk badannya jadi lebih langsing (nggak usah susah-susah beli obat pelangsing atau pergi ke salon perawatan yang mahal!), pembantu saya jarang sekali mengeluh capek, sakit, kurang darah, dll. Saya cuma bisa bersyukur pada Allah, ternyata apa yang disediakan Allah dialam dalam bentuk terbaiknya memberi manusia manfaat terbaik (tanaman dan hasilnya yang tidak diproses).
Ini hanya awal perjalanan RAW Food keluarga kami. Saya ini kami sekeluarga bisa lebih sehat dan bahagia. Ada banyak pemikiran dan ide-ide positif yang muncul dan kami dapati sejalan dengan berubahnya pola hidup kami. Hal lainnya yang kami dapatkan adalah dampak positif yang ditimbulkan RAW Food Diet untuk masa depan anak cucu dan terselamatkannya bumi ini.
Rabu, 10 Maret 2010
Raw with Pestiside VS Cooked with Pestiside
Seringkali orang yang penasaran dan bertanya tentang diet (keluarga kami) RAW FOOD/Makanan Mentah, pasti utamanya tentang masalah pestisida pada bahan makanan (sayur, buah/tanaman). "Kalau sayur ngk dimasak, gimana masalah pestisidanya? kan bahaya tuh!". Saya balik tanya, "gimana dengan buah2 yang kebanyakan dikonsumsi segar oleh anda? apa buah anda masak juga?" pasti jawabnya tidak. Saya tanya lagi "terus anda apakan buahnya untuk mengurangi efek jejak pestisida?" jawabnya pasti dicuci sebersih mungkin. Ya sama saja, buat sayur juga saya usahakan dicuci bersih (semaksimal mungkin keluarga kami meski tinggal dikota mengkonsumsi sayur dan buah organik yang kami tanam sendiri dengan keterbatasan lahan yang ada, atau kami berbelanja di pasar lokal bukan pasar induk atau supermarket).
Sekarang saya ditanya lagi, "kalau tidak dimasak pestisidanya kan ngk hilang, tambah bahaya jika dimakan mentah". Saya jawabnya ringan saya, logikanya kalau dimasakpun pestisida tetap ada, karena bukan hanya menempel dikulit tetapi merasuk keseluruh tanaman lewat akar, daun dan bagian lainnya. Selain itu makanan yang dimasak enyzm, mineral, vitamin dan nutrisi yang sebagian besar sensitif terhadap cahaya dan temperatur tinggi pada hilang dan mati. Ketambahan juga molekul yang ada dimakanan yang dimasak karena proses pemanasan jadi berubah berbahaya untuk tubuh manusia. Jadi apa yang tersisa dari makanan yang dimasak, terutama memasak dengan suhu tinggi (diatas 100F)jawabnya TIDAK ADA! yang tersisa cuma bibit penyakit baru buat tubuh yang sangat berharga ini. Satu lagi, perut tambah hari tambah nagihin makanan lebih dan lebih, karena tubuh tersayang ini lapar nutrisi yang tidak terpenuhi dari makanan yang dimasak.
Jadi saya dan keluarga tetap memilih RAW FOOD.Biar dibilang jadi kelinci atau kuno karena jadi seperti nenek moyang (yang terbukti lebih sehat dari kita jaman sekarang), tapi tubuh ini jadi terjaga dan terpelihara. Saya Sayang Tubuh Ini, kasihak kalau tidak dijaga ntar cepat rusak, kalau rusak saya nggak punya gantinya. Apa Anda Punya?
Sekarang saya ditanya lagi, "kalau tidak dimasak pestisidanya kan ngk hilang, tambah bahaya jika dimakan mentah". Saya jawabnya ringan saya, logikanya kalau dimasakpun pestisida tetap ada, karena bukan hanya menempel dikulit tetapi merasuk keseluruh tanaman lewat akar, daun dan bagian lainnya. Selain itu makanan yang dimasak enyzm, mineral, vitamin dan nutrisi yang sebagian besar sensitif terhadap cahaya dan temperatur tinggi pada hilang dan mati. Ketambahan juga molekul yang ada dimakanan yang dimasak karena proses pemanasan jadi berubah berbahaya untuk tubuh manusia. Jadi apa yang tersisa dari makanan yang dimasak, terutama memasak dengan suhu tinggi (diatas 100F)jawabnya TIDAK ADA! yang tersisa cuma bibit penyakit baru buat tubuh yang sangat berharga ini. Satu lagi, perut tambah hari tambah nagihin makanan lebih dan lebih, karena tubuh tersayang ini lapar nutrisi yang tidak terpenuhi dari makanan yang dimasak.
Jadi saya dan keluarga tetap memilih RAW FOOD.Biar dibilang jadi kelinci atau kuno karena jadi seperti nenek moyang (yang terbukti lebih sehat dari kita jaman sekarang), tapi tubuh ini jadi terjaga dan terpelihara. Saya Sayang Tubuh Ini, kasihak kalau tidak dijaga ntar cepat rusak, kalau rusak saya nggak punya gantinya. Apa Anda Punya?
Senin, 08 Maret 2010
2 weeks eating raw
sudah 2 minggu 1 hari kita sekeluarga makan2 makanan yang ngk dimasak. Enak juga sih nggak usah masak, irit gas,minyak kelapa, ngk lagi masak beras, listrik pasti jadi turun bulan depan, inshaAllah.
Hari pertama lucu rasanya, karena saya ngk masak. cuma potong-potong, bikin bumbu, diulek or blender, jadi deh. Rasanya senang sekali masukin hal-hal yang alami ke tubuh, kita berusaha ngk masukin atau mengurangi mengkonsumsi junk food, cook food yang ternyata nutrisinya sangat sedikit karena makanan melewati proses pemanasan (dimasak).
Nggak enaknya makan makanan mentah 90% untuk pertama kali, badan harus melewati proses detoksifikasi. Kita sekeluarga keluhannya beda-beda. Eh sambung ntar deh..mau bikin sarapan. It's 4.37am already..better hurry up..
Hari pertama lucu rasanya, karena saya ngk masak. cuma potong-potong, bikin bumbu, diulek or blender, jadi deh. Rasanya senang sekali masukin hal-hal yang alami ke tubuh, kita berusaha ngk masukin atau mengurangi mengkonsumsi junk food, cook food yang ternyata nutrisinya sangat sedikit karena makanan melewati proses pemanasan (dimasak).
Nggak enaknya makan makanan mentah 90% untuk pertama kali, badan harus melewati proses detoksifikasi. Kita sekeluarga keluhannya beda-beda. Eh sambung ntar deh..mau bikin sarapan. It's 4.37am already..better hurry up..
Jumat, 26 Februari 2010
Raw Food This Week
capek juga keliling kota nyari bahan organic. Kayaknya diMalang belum bisa mudah didapat deh, adanya di Matos, Lai-lai, itu juga ngk bisa buat konsumsi setiap hari, kemahalan, belum lagi waktu yg ngk memungkinkan tuk shopping sering-sering. Mau sehat ngk gampang juga ternyata. Tapi tetap SEMANGAT!
Buat menu minggu depan diet RAW FOOD, Senin ada Hummus, Selasa ada Pate, Rabu ada Guacamole, Kamis makan Hummus lagi tapi versi lain, Jumat ada Pate versi lain, Sabtu ada Feta Cheese (ngk RAW sih..), minggu ada Morocan Marinade.
Nah ni dia, untuk makan siang yg aku ma para little khalifah tunggu-tunggu.. Jus Sayur and Granola Bar..yum-yum!, Dinnernya my dh bikin juice buah, tapi my little khalifah pada ngk mau di juice lagi buahnya, more interesting kalo dibikin salad buah, aku jadi deh ikut2an demam salad buah, biar kerja nyiapin dinner tambah lama, tapi sebanding ma enaknya fruit salad, belum lagi, tiap suapan bayangin semua nutrisi yang maksimal masuk ke tubuh, besok pasti bangunnya segar deh..
Buat menu minggu depan diet RAW FOOD, Senin ada Hummus, Selasa ada Pate, Rabu ada Guacamole, Kamis makan Hummus lagi tapi versi lain, Jumat ada Pate versi lain, Sabtu ada Feta Cheese (ngk RAW sih..), minggu ada Morocan Marinade.
Nah ni dia, untuk makan siang yg aku ma para little khalifah tunggu-tunggu.. Jus Sayur and Granola Bar..yum-yum!, Dinnernya my dh bikin juice buah, tapi my little khalifah pada ngk mau di juice lagi buahnya, more interesting kalo dibikin salad buah, aku jadi deh ikut2an demam salad buah, biar kerja nyiapin dinner tambah lama, tapi sebanding ma enaknya fruit salad, belum lagi, tiap suapan bayangin semua nutrisi yang maksimal masuk ke tubuh, besok pasti bangunnya segar deh..
Langganan:
Postingan (Atom)